Dulu, kata “main” bagi banyak milenial mungkin identik dengan kelereng, egrang, atau permainan tradisional sederhana — bahkan beberapa juga sempat merakit mobil Tamiya mini di garasi rumah bersama teman-teman.

Tapi kini, definisi “main” telah berubah total. Bagi generasi Gen Z dan milenial muda, “main” lebih sering berarti menyalakan smartphone, lalu join ke squad di Mobile Legends: Bang Bang, atau menjelajah dunia luas di Minecraft.

Menurut riset terbaru, game bergenre MOBA, aksi, dan petualangan mendominasi preferensi Gen Z — terutama karena gameplay yang cepat, komunitas besar, dan kesempatan untuk bersosialisasi.

Tapi menariknya, nostalgia juga ikut bermain. Banyak milenial yang sekarang kembali mengenang keasyikan saat merakit Tamiya, main kartu, atau permainan tradisional — dan kadang mengajak Gen Z ikut merasakan kenangan itu. Bagi mereka, permainan masa kecil bukan sekadar nostalgia; melainkan jembatan antar generasi.

Di tengah kesibukan dan dunia digital yang serba cepat, permainan — baik tradisional maupun digital — menjadi cara untuk melepas penat, bersosialisasi, dan menghibur diri. Sekaligus, mempererat kenangan dan kebersamaan lintas generasi.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like